Bukan Toga Biasa

Rasanya baru resmi jadi sarjana kalau sudah pakai toga. Apalagi kalo tali topi toga sudah berpindah sisi. Oohh dan ada foto salaman sama rektor dan dekan ūüėÄ .

Ya, rasanya baru jadi sarjana kalau sudah prosesi wisuda.

Plus arak-arakan keliling kampus kalau di tempatku kuliah dulu.

Di Hari Sarjana Nasional ini –yang mana juga aku baru tahu karena lihat instagram– aku jadi berpikir.

Apa makna menjadi sarjana buatku?

Mengenang kembali dua tahun silam, waktu setengah mati menyelesaikan penelitian. Secepatnya menyusun naskah publikasi dan membereskan beban administrasi agar derita cepat berlalu. Pokoknya mau lulus cepat. Biar berganti suasana hidup dari keluar masuk kandang mencit ke kegiatan yang lebih menyenangkan.

Bukan tindakan yang bijaksana ingin cepat lulus karena sekedar ingin mengakhiri masa studi. Paska wisuda, aku bingung mau apa. Tidak memiliki rencana pasti, segalanya serba ngawang.

Kadang bila hidup rasanya sesak betul aku ingin kembali ke masa kuliah. Ketika beban hidup seputar ujian dan urusan organisasi. Tinggal di kota yang begitu nyaman dan dikelilingi teman-teman yang ramah.

Setelah lulus dan kembali ke ibukota, segalanya berkali lipat lebih sulit karena dihadapi sendiri. Tantangan hidup datang dari berbagai sisi hingga bingung mau mulai melangkah ke mana.

What did I do wrong, what should’ve I prepared better?

Adikku akan kuliah tahun depan, untuknya¬†aku berpesan, “mungkin ada baiknya kamu mulai memikirkan cara menghasilkan uang sejak kuliah nanti”. Meski bentuknya bagaimana juga aku tak terbayang.

Ketika googling tentang hari sarjana ini, aku menemukan arti sarjana dalam bahasa Sansekerta, yaitu penciptaan. Lalu aku mengangguk setuju akan definisi itu.

Menjadi sarjana berarti melewati proses penciptaan. Tercipta menjadi manusia baru, dengan pengetahuan dan akhlak yang teruji. Bukan hanya ilmu di atas kertas tapi juga mengembangkannya. Menggunakan ilmu untuk membantu masyarakat, bekerja sama membangun cita-cita yang luhur.

Tidak pernah selama masa kuliahku dulu, kubayangkan bagaimana cara punya banyak harta. Mungkin kelewat naif dan belum kepentok realita hidup. Fokusku tertuju pada kepiawaian akademik dan perkembangan diri, terutama relasi antar manusia dalam berkarya.

Jikapun ada mesin waktu membawaku ke masa itu, tak akan kutukar semua pengalaman organisasi, kompetisi, atau persahabatan, dengan usaha menghasilkan uang. Sepenuh hati juga tidak kusesali perjalanan itu, yang  mengalihkan minatku ke jalur karir yang berbeda. Nyatanya aku bertumbuh, menjadi pribadi yang lebih humanis. Aku lebih tergerak untuk meningkatkan kualitas manusia daripada menemukan vaksin.

Sarjana diciptakan.

Sarjana menciptakan.

Kini segala daya kukerahkan untuk berkarya, sebagaimana hatiku menunjukkan jalan. Mengambil langkah satu demi satu, mempercayakan proses kepada Sang Hidup.

Mengutip janji yang kuucapkan ketika memakai toga di hari wisudaku

Kami berjanji,
Akan mengabdikan ilmu pengetahuan
Bagi kesejahteraan bangsa Indonesia
Perikemanusiaan dan perdamaian dunia

Kami berjanji akan mengabdikan
Segala kebajikan ilmu pengetahuan
Untuk menghantarkan bangsa Indonesia
Ke pintu gerbang masyarakat adil dan makmur
Yang berdasarkan pancasila

Kami berjanji akan tetap setia
Kepada watak pembangunan kesarjanaan Indonesia
Dan menjunjung tinggi susila sarjana,
Kejujuran serta keluhuran ilmu pengetahuan
Di manapun kami berada

 

Aku Sarjana Indonesia, aku mau mencipta untuk bangsa, manusia, dan alam semesta.

1 thought on “Bukan Toga Biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *